KUNINGAN - Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) penghuni Hutan Gunung Ciremai, Jawa Barat Slamet Ramadhan, segera miliki pasangan baru sebagai teman hidupnya.
Hal ini menyusul rencana pelepasliaran seekor Macan Tutul Jawa Betina dalam waktu dekat oleh pihak Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) di hutan Ciremai.
TN Gunung Ciremai merupakan kawasan pelestarian alam memberikan ruang bagi sumberdaya alam hayati untuk hidup dan berkembangbiak. Salah satu yang berperan penting dalam keseimbangan ekosistem adalah top predator.
Kepala BTNGC, Teguh Setiawan, menyebutkan Top Predator atau pemangsa tertinggi dalam rantai makanan pada suatu ekosistem memiliki pengaruh besar terjadinya keseimbangan ekosistem tersebut.
"Ekosistem dikatakan seimbang apabila semua komponen biotik dan abiotik berada pada takaran yang seharusnya dalam jumlah maupun peranannya dalam lingkungan, " ujarnya.
Dikatakannya, salah satu top predator yang ada di kawasan TN Gunung Ciremai adalah Macan Tutul (Panthera pardus melas), yang juga menjadi satwa kunci (key spesies) yang menjadi indicator kualitas ekosistem TN Gunung Ciremai.
" Monitoring Macan Tutul di kawasan TN Gunung Ciremai telah dilakukan sejak tahun 2011. Lalu, terekam pada beberapa camera trap pada tahun 2013, Macan Tutul Jawa berjenis kelamin jantan di kawasan setelah dianalisa ada 1 individu, " paparnya.
Sebagai bentuk upaya pengembangbiakan Macan Tutul Jawa, pada tahun 2019, pihaknya bekerjasama dengan BBKSDA Jawa Barat dan PPS Cikananga melepasliarkan 1 individu Macan Tutul Jawa jantan yang diberi nama “Slamet Ramadhan” dan terpasang GPS Colar.
"Kondisi Slamet Ramadhan berdasarkan rekaman kamera trap pada Bulan Oktober 2021 menunjukkan pertumbuhannya yang baik sehingga GPS Colarnya perlu dilepaskan agar dapat berkembang lebih baik, " terangnya.
Cara melepaskan GPS Colar inilah yang menjadi bahan diskusi yang digelar di RM J n J, Selasa (07/12). Diskusi yang menghadirkan banyak pihak ini dihadiri juga beberapa pakar Macan Tutul Jawa.
Terungkap dalam diskusi, salah satu cara untuk melepaskan GPS Colar di tubuh Slamet Ramadhan adalah dengan menjebak menggunakan betina sebagai pancingan.
Direncanakan individu Macan Tutul Betina ini adalah dari PPS Cikananga, sebagai lembaga konservasi telah menerima satwaliar dari masyarakat umum atau pihak lain melalui BBKSDA Jawa Barat.
Melalui diskusi tersebut, Kepala Balai TNGC mengatakan adalah sebagai salah satu langkah sosialisasi kepada pemerintah daerah dan masyarakat setempat dengan tujuan memberikan pemahaman dan informasi mengenai pentingnya menjaga keberadaan populasi Macan Tutul Jawa di kawasan TN Gunung Ciremai.
Sementara, Bupati Kuningan, Acep Purnama, memberikan dukungan penuh pada upaya Balai TN Gunung Ciremai dalam penyelamatan dan pelepasliaran satwa
Macan Tutul Jawa yang akan dilakukan. “Pentingnya menjaga flora fauna yang ada di sekitar kita, khususnya di kawasan TN Gunung Ciremai sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT Yang telah menciptakan alam semesta. Manusia harus menjaganya dengan baik, " kata Bupati.
Materi pada sosialisasi ini diberikan oleh Toto Supartono, LPPM Universitas Kuningan, Didik Raharyono dari Peduli Karnivora Jawa, Erwin Wilianto dari SINTAS Indonesia dan Ilham Nugraha Kader Konservasi Ciamis.
Terungkap, bahwa perbanyakan populasi
Macan Tutul Jawa sebagai top predator dapat menanggulangi gangguan satwaliar Monyet Ekor Panjang dan Babi Hutan yang kerap mengganggu masyarakat. (Nars)