Teror Ajag Kembali Terjadi, 12 Ekor Kambing Milik Warga Desa Cibeureum Mati - Kuningan Religi

Breaking



Rabu, 03 Februari 2021

Teror Ajag Kembali Terjadi, 12 Ekor Kambing Milik Warga Desa Cibeureum Mati

KUNINGAN – Setelah selama satu bulan absen, teror ajang atau anjing hutan di wilayah Kuningan Timur kembali terjadi. Jika Bulan Desember lalu terjadi di wilayah Kecamatan Cibingbin, kali ini korbannya adalah para peternak di Kecamatan Cibeureum.

Sekira 12 ekor kambing milik empat orang peternak asal Desa/Kecamatan Cibeureum selama dua hari ini diduga menjadi korban terkaman ajag misterius. 



"Empat orang peternak, namanya Katim, Darman, Astam dan Durja melaporkan bahwa ternak kambing mereka mati mendadak diduga dimangsa ajag. Kejadiannya sama seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di Kecamatan Cibingbin," jelas Ali Akbar, yang juga anggota legislatif Kuningan dari Dapil 4 ini, kepada media, Rabu (03/02/2021).

Pria yang juga anggota Fraksi PPP DPRD Kuningan ini menambahkan bahwa lokasi kandang milik peternak yang kambingnya dimangsa ajag ini berada di tempat terpisah.

Ia merinci lebih jauh, bahwa 8 dari 12 ekor kambing, mati pada dua hari lalu. Sedangkan 4 ekor lagi, diduga dimangsa pada Selasa (02/02) malam.

Warga desa, kata Ali, mengetahui ada kawanan ajag yang menyerang hewan ternak, setelah mendengar suara-suara ribut di sekitar lokasi kandang.

"Saat warga menghampiri ke dekat kandang, mereka melihat gerombolan ajag lari ke arah hutan, " imbuhnya.

Ketika warga melihat ke dalam kandang, mereka mengetahui bahwa kambing-kambingnya mati dengan bekas gigitan di bagian tubuh hewan ternak itu.

Mendapat laporan dari warga, Ali mengetahui bahwa kondisi peternak tersebut sangat berharap agar pemerintah bisa memperhatikan nasib mereka. 



Ditengah kondisi pandemi COVID-19 ini, selain perekonomian keluarga yang terhimpit, nasib mereka semakin terpuruk dengan matinya hewan ternak milik mereka.

"Saya mendapat laporan bahwa peternak yang sebelumnya mengalami kerugian atas serangan ajag ini di Kecamatan Cibingbin juga belum mendapat bantuan. Mereka berharap pemerintah bisa segera mewujudkan harapannya untuk mendapat ganti atas kematian massal ternak mereka," pungkas Ali. (Nars)